KLB PSSI Tak Terbendung (1) EDY RAHMAYADI KANDIDAT YANG SEGERA DIUSUNG

by admin
0 comment
Jakarta (http://elkosongsijimedia.blogspot.co.id/) – Sejak “Kelompok 85â€� mengajukan surat kepada PSSI, 3 Mei 2016 lalu, yang diterima oleh Sekjen PSSI Azwan Karim, sepertinya Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI sudah tidak bisa dibendung lagi. Oleh sebab itu, CN mencoba utak-atik, siapa saja kandidat-kandidat yang akan muncul nantinya, untuk menggantikan gerbong La Nyalla Mattalitti dkk di “Kursi Panas’ PSSI sekitar Agustus mendatang.


Sampai hari ini, tanda-tanda SK pencabutan PSSI dari Menpora, sepertinya hanya tinggal menunggu hari. Begitu pula, pencabutan FIFA terhadap PSSI, juga akan berakhir 13 Mei 2016, saat rapat EXCO FIFA berlangsung di Meksiko, 12 – 13 Mei 2016 mendatang, juga tinggal ditandatangani. Bahkan, draft surat SK pencabutan Menpora cq Pemerintah Indonesia, tinggal ditandatangani oleh Imam Nahrawi. 


CN memprediksi sosok Edy Rahmayadi, yang kini menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) dengan pangkat Letjen TNI ini, akan menjadi salah satu kandidat yang serius. Entah itu didukung pemerintah, atau entah didukung oleh “Kelompok 87�, entah didukung oleh sekelompok pemilik suara, namun dari hasil investigasi CN, sepertinya anak Medan ini, akan diusung menjadi salah satu penghuni “Kursi Panas� PSSI, Agustus atau September mendatang.

Ada “benang merah� yang membawa mantan Panglima Kodam I/Bukit Barisan tahun 2015 lalu. Salah satunya, saat Edy Rahmayadi masuk ke manajemen PSMS Medan, saat bertugas di Medan sebagai pangdam. “Ayam Kinantan� yang berdiri 21 April 1950, dengan nama Persatuan Sepakbola Medan dan Sekitarnya (PSMS) sejatinya telah menorehkan banyak catatan sejarah di kancah sepak bola Indonesia. Baik, catatan gemilang maupun catatan kelam.

Dulu, PSMS Medan selalu menelorkan bintang kelas satu Indonesia dan tak pernah berhenti menelorkan pemain hebat. Sejak Ronny Paslah, Anwar Ujang, Nobon, Tumsila, Sarman Pangabean, Zulkarnaen Lubis, Badiraja Manurung, Ricky Yacoby, Jaya Hartono, Eddy Hartono, Patar Tambunan, Marzuky Nyak Mad, Azhary Rangkuti hingga Ansyari Lubis. Mereka adalah deretan nama-nama pemain Medan yang berkostum merah-merah Tim Nasional Indonesia.

Sepuluh tahun lalu, PSMS Medan masih dihuni deretan nama-nama besar seperti Saktiawan Sinaga, Markus Horison, Mahyadi Panggabean. Namun, musim Liga Super 2008, mereka hengkang dari markas Kebun Bunga, berganti kostum milik Persik Kediri. Bahkan, sebagian pemain yang memperkuat PSMS Medan hijrah ke banyak klub Persib bandung, Sriwijaya dan Persela Lamongan. Satu-satunya young guns saat itu, Andika Yudhistira Lubis, juga harus hijrah entah kemana nasibnya (musim lalu sempat menggunakan kostum Arema Malang?).

Kondisi seperti inilah, yang membuat PSMS Medan sepertinya, membutuhkan manusia-manusia super seperti di jaman TD Pardede pemilik klub Pardedetex, atau juga butuh manusia super yang memiliki motivator sekaligus orator ulung, seperti Kamarudin Pangabean. Atau perlu turun gunung sosok Johnny Pardede (bapaknya Herna Pardede). Namun, cepat atau lambat, sosok Edy Rahmayadi, sepertinya mampu dijadikan solusi untuk sementara.

Beberapa tahun terakhir, permasalahan pelik kerap kali singgah ke Kebun Bunga, markas ‘Ayam Kinantan� ini. Dari gaji pemain yang tidak dibayar, konsumsi yang menyedihkan (pemain makan nasi bungkus), hingga perseteruan antar pengurus. Prestasi? Mungkin cuma bisa dicapai lewat mimpi.

Ternyata, kehadiran Edy Rahmayadi, seperti embun di padang pasir. Kondisi PSMS pelan-pelan membaik. Tidak ada lagi pemain yang makan nasi bungkus, tidak ada lagi keterlambatan gaji. Bonus-bonus pun kerap dikucurkan. Pemain senang dan prestasi diraih dengan elegan. Buntutnya, hanya dalam tiga bulan dibangun Edy Rahmayadi, PSMS Medan menorehkan “tinta emas� sebagai jawara turnamen Piala Kemerdekaan 2015

Namun, ketika Edy berganti pangkat, dan kemudian hijrah ke Jakarta sebagai Pangkostrad, sepertinya, ada “ambisi� yang tersimpan dalam sosok jenderal bintang tiga ini. Yaitu, mengubah jubah PSMS Medan menjelma menjadi PS TNI, saat diterjunkan ke Piala Jenderal Sudirman. Dan, puncaknya, ketika PSMS Medan akan diboyong ke tanah Papua, dengan membeli Persiwa Wamena, dan kemudian batal, dan memilih Persiram Raja Ampat berjubah PS TNI, yang diterjunkan ke Indonesia Soccer Championship akhir April lalu.

Dari situ muncul permasalahan dengan masyarakat pencinta PSMS Medan. Jika, tujuannya ingin membangun sepak bola, mengapa materi pemain PSMS Medan harus dibawah ke Papua? Jika ingin membangun kebangkitan “Ayam Kinantan�, sejatinya biarkan PSMS Medan menjalankan prosesnya, yaitu tetap diterjunkan ke ISC B. Dari sinilah, sosok Edy Rahmayadi, sepertinya menciptakan dilemma baru, dalam membangun sepak bola.

Namun, terlepas sepak terjang Edy Rahmayadi yang dnilai kontroversial bagi masyarakat Medan. Pasalnya, sebagai jenderal, sepertinya sosoknya dibutuhkan oleh para voters, termasuk “Kelompok 85â€� yang setelah deklarasi, otomatis mencari-cari “bentengâ€� sebagai tameng dari ancaman demi ancaman dan teror yang dilakukan La Nyalla Mattalitti yang masih buron. Sosok Edy Rahmayadi, dipastikan oleh CN akan menciutkan “nyaliâ€� LNM, panggilan akabnya La Nyalla dari kelompoknya. 

Seperti pernah ditulis di artikel CN 7 Mei lalu, bahwa ada 3 kelompok yang berada dalam “Kelompok 85� yang terdiri gabungan 13 klub ISL, 14 klub Divisi Utama, 13 klub Divisi Satu dan dua asosiasi pelatih serta pemain dan 28, asosiasi provinsi (asprov) PSSI. Yang pertama, Kelompok yang tidak pernah merasa takut dengan PSSI (karena agamanya uang). Yang Kedua, kelompok yang tidak merasa takut diancam oleh La Nyalla (sampai tulisan ini diturunkan, sudah berkali-kali diancam La Nyalla). Kelompok ketiga, kelompok yang ingin ada pengurus baru tanpa ada orang-orang partai politik.

“Kelompok 85� yang terdiri dari tiga (3) kelompok ini, suka atau tidak suka, benci atau tidak, protes atau mendukung, sepertinya punya visi dan misi yang sama, untuk bisa mendapatkan kandidat ketum PSSI, agar sepak bola kembali dibangun di jalur pembinaan dan profesional. Bukan, dibangun lewan ancam mengancam, teror demi teror, dan berkelakuan manusia-manusia partai politik.

Perlu dicatat, CN memperdiksi ada 8 anggota EXCO yang sampai hari ini, adalah anggota dan kader partai politik. Saran CN, alangkah baiknya kalian-kalian mundur dan kembali ke partai masing-masing. Biarkan, pengurus PSSI yang baru, dibangun oleh manusia-manusia yang orientasinya pembinaan dan profesional, tanpa harus dikrecokin oleh oknum-oknum kader partai politik, yang nyata-nyata sejatinya tak punya wawasan, integritas dan kompetensi dalam sepak bola modern.

Untuk kembali ke ranah sepak bola yang semakin modern, dibutuhkan sosok-sosok kreatif, bernyali dan memiliki komitmen membangun sepak bola. Masih ingat, sosok-sosok dalam diri Bardosono (Tentara), Ali Sadikin (Marinir), Syarnubi Said (Tentara), Kardono (Angkatan Udara), Azwar Anas (Tentara), Agum Gumelar (Tentara) adalah sosok yang dipilih regim “Orde Baruâ€� Soeharto dalam membangun sepak bola, dari primitif ke semi profesional. 

Namun, di tengah jalan dirusak oleh Nurdin Halid dari kader Partai Golkar, dan sejak itu sepak bola menomorsatukan politik sepak bola, ketimbang membangun pembinaan dan kompetisi. Dan, saat dipimpin La Nyalla Mattalitti, saat sebagai anggota EXCO tahun 2011, dan kemudian menunjuk dirinya sendiri menjadi wakil ketua umum PSSI menggantikan Farid Rahman, serta kemudian 18 April 2016 menjadi ketum PSSI dengan cara-cara teror dan intimidasi, sepertinya perlu dihentikan dengan cara-cara keras gaya militer.

Saran CN, untuk Edy Rahmayadi, jika serius nantinya digadang-gadang oleh voters menjelang KLB PSSI, perlu mengubah gaya sekaligus membangun misi dan visinya, tidak sekadar menjaga sepak bola Indonesia dari intimidasi, teror dan bergaya partai politik. Lebih dari itu, Edy Rahmayadi, wajib berkomitmen membangun sepak bola dengan berkompetisi dari pembinaan usia dini.

Satu lagi saran CN, Edy Rahmayadi harus mengklarifikasi masalah-masalah yang akhirnya muncul di komunitas sepak bola Medan dan sekitarnya, setelah pindah ke lain hati, dari PSMS Medan menjadi PS TNI (hasil pembelian illegal Persiram Raja Ampat). Edy Rahmayadi, jika nantinya jadi ketum PSSI, harus membangun kembali PSMS Medan, Persiram Raja Ampat, sekaligus mengembalikan PS TNI ke “barak� sebagai bagian dari fungsi TNI dalam membangun negara dan bangsa.

Bung Edy Rahmayadi, silahkan mulai besok mampir-mampir ke kawasan sepak bola nasional, untuk silahturahim…….agar bisa berkenalan dengan komunitas sepak bola nasional, bahwa Bung Edy adalah “Anak Medan� yang tak pernah gentar…..dan Tentara Berhati Mulia…….., berkomitmen dan siap menggerus “preman-preman� dan mafioso sepak bola nasional.
Sumber: hhttps://www.facebook.com/147995238566016/photos/a.153151988050341.30634.147995238566016/1175179815847548/?type=3&theater

You may also like

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

%d blogger menyukai ini: