KLB PSSI Tak Terbendung (2) PSSI BUTUH PEMIMPIN SEPERTI AHOK

by admin
0 comment

Jakarta (http://elkosongsijimedia.blogspot.co.id/) – Sudah setahun lebih PSSI dibekukan pemerintah. Tepatnya berdasarkan Surat keputusan Kemenpora bernomor 01307 tahun 2015 tertanggal 17 April 2015 17. Sudah hampir setahun pula, PSSI disanksi FIFA seperti yang tertuang dalam surat sanksi FIFA tertanggal 30 Mei 2015. Sayangnya, belum ada langkah konkrit yang dilakukan untuk mereformasi personel dan tata kelola sepak bola Indonesia. Banyak yang mengistilahkan langkah reformasi PSSI yang dipimpin Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, sebagai plesetan lembaga pegadaian: Menyelesaikan masalah tanpa solusi.


Sebenarnya, banyak jalan untuk menuntaskan reformasi sepak bola Indonesia secepat-cepatnya bila mau belajar dari sejarah: Revolusi PSSI Jilid I pada 2011. Sayangnya, pengalaman itu tak dijadikan referensi. Sayangnya, prinsip “The Right Man on The Right Job, and The Right Man on the Right Place� tak mampu dijalankan. Terlalu banyak blunder. Terlalu banyak “The Wrong Man� Akhirnya, semua mentok dan Presiden Republik Indonesia, Ir Joko Widodo pun terpaksa harus turun tangan langsung.

Kini, setelah dilakukan lobi ke FIFA, lewat utusan Pemerintah yang diwakili Ketua Komite Olahraga Indonesia (KOI), Erick Thohir, ada celah untuk menuntaskan revolusi PSSI ke jalan yang dicita-citakan bersama : PSSI Baru yang berprestasi dan Bebas dari Kepentingan Kelompok Tertentu. Memang, caranya tak akan mudah karena yang pasti kelompok status quo yang telah mengendalikan PSSI lebih dari 25 tahun tanpa prestasi akan habis-habisan mempertahankan kekuasaannya.

Lewat surat FIFA tertanggal 26 April 2016 yang ditandatangani Acting Sekjen FIFA, Markus Kattner, yang ditujukan kepada Menteri Sekretaris Negara, Pratikno, dijelaskan bahwa jalan keluar dari kemandekan revolusi PSSI hanya bisa dilakukan melalui proses Kongres Luar Biasa (KLB). Tentunya, dengan syarat sesuai Statuta PSSI. Salah satunya, karena Ketua Umum PSSI, La Nyalla Mattalitti, berhalangan sementara/tetap karena kini berstatus sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO) kasus korupsi dana Kadin Jawa Timur. Selain itu, juga harus ada surat permintaan tertulis dari anggota PSSI minimal setengah plus satu. Dan, langkah itu sudah mulai dilakukan. Sebanyak 85 Pemilik Suara sudah menyatakan meminta KLB segera dilakukan.

Nah, pertanyaannya sekarang, siapa yang pantas memimpin PSSI agar visi dan misi revolusi dan reformasi Tata Kelola Sepak Bola Nasional berjalan sesuai dengan yang diharapkan: sepak Bola Indonesia yang bersih, sehat, kompetitif, dan berprestasi? Jangan sampai tragedi revolusi PSSI Jilid I yang menghasilkan duet Djohar Arifin Husein dan Farid Rahman kembali terulang. Karena tak mempersiapkan calon dengan baik dan tepat, dalam KLB di Solo 2011, 9 Juli 2011, akhirnya revolusi PSSI mentok di tengah jalan. Diambil alih kembali “Kelompok Mafia�. Djohar-Farid bukan tipikal petarung. Farid “menyerah di tengah jalan� karena tak kuat tekanan. Djohar menyerah setelah diiming-imingi fasilitas. Revolusi PSSI pun mati suri setelah Kudeta Tak Berdarah di Hotel Borobudur, lewat KLB yang disetting, pada 17 Maret 2013. Sejarah itu harus dijadikan pelajaran. Jangan sampai kembali terulang. Reformasi dan revolusi PSSI harus tuntas. Karena itu harus disiapkan dengan matang. Caranya?

Langkah pertama, yang harus dilakukan adalah Tim Reformasi dan Revolusi PSSI harus benar-benar siap dengan strategi dan langkah-langkah tepat, akurat, dan cermat. Utamanya, bila benar FIFA akan membentuk Komite Normalisasi untuk KLB PSSI. Jangan lagi, Komite Normalisasi diisi orang-orang yang mudah “masuk angin� seperti 2011. Komite Normalisasi harus diisi sosok yang kapabel, berintegritas, bersih, dan idealis untuk masa depan sepak bola Indonesia. Hal sama juga harus terjadi di Komite Pemilihan dan Komite Banding Pemilihan. Langkah paling ideal adalah potong satu generasi di PSSI. Intinya, reformasi dan revolusi Tata Kelola Sepak Bola Indonesia harus dituntaskan dan dijalankan oleh personel yang bersih dari “penyakit sepak bola Indonesia� selama ini.

Sayangnya, sampai sekarang, sosok-sosok harapan itu masih ditutup rapat-rapat. Termasuk di dalamnya calon Ketua Umum PSSI masa depan. Ada isu, Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo, akan didorong. Muncul juga nama Pangkostrad, Letnan TNI Edy Rahmayadi. Sosok tentara memang masih sangat dibutuhkan untuk memimpin PSSI yang secara tak langsung adalah miniatur Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tapi, apakah dua sosok ini bisa menerjemahkan revolusi total dan revolusi mental sepak bola nasional?

Dari dua sosok tentara di atas, sejatinya muncul calon alternatif yang benar-benar berani dan mampu menjalankan visi dan misi reformasi total dan revolusi mental tata kelola sepak bola nasional seperti yang diharapkan Presiden Republik Indonesia, Ir Joko Widodo. Tak perlu tentara dengan bintang di pundak, tapi sosok satrio piningit yang benar-benar berani membongkar gurita “mafia bola� di Indonesia. Dan, sosok Basuki Tjahaya Purnama, (BTP) dengan segala kontroversi dan kegigihannya merevolusi tata kelola kehidupan masyarakat DKI Jakarta, pantas untuk dinominasikan. PSSI butuh pemimpin seperti Ahok, panggilan akrab BTP yang berani mengobrak-abrik cara-cara pragmatis yang selama ini kental di birokrasi DKI Jakarta.

Banyak alasan yang bisa disodorkan, kenapa Ahok, pria kelahiran, Manggar, Belitung Timur, 29 Juni 1966, pantas dan layak menjadi pemimpin PSSI masa depan. Berikut argumentasinya:

1. Visioner dan Revolusioner

Ahok punya visi jelas dalam memimpin. Bahkan, Gubernur DKI Jakarta ini mampu menerjemahkan bahasa-bahasa isyarat Presiden Joko Widodo karena kebetulan keduanya pernah berduet dengan Jokowi meski sebentar dalam memimpin DKI Jakarta. PSSI butuh pemimpin yang visioner yang berpikir jauh ke depan untuk kepentingan prestasi sepak bola Indonesia masa depan.

PSSI juga butuh pemimpin yang revolusioner. Yang berani menghancurkan bangunan lama yang rusak dan menggantikannya dengan bangunan baru yang kokoh, bagus, dan punya nilai tinggi. Pemimpin revolusioner berani menabrak kebiasaan lama yang kolot dan kuno bahkan korup. Sangat sulit menemukan pemimpin semacam ini di tengah kelompok-kelompok mafia begitu merajalela di Indonesia. Ahok, salah satu yang punya semangat dan jiwa yang visioner dan revolusioner. Membongkar kebiasaan lama untuk masa depan yang lebih baik. Itu sudah dibuktikannya dalam memimpin Jakarta. Bila Ahok memimpin PSSI langkah-langkah visioner dan revolusioner pasti akan dilakukannya.

2. Reformis dan Idealis

PSSI membutuhkan tokoh reformis sejati. Yang mampu mengubah struktur dan pola-pola lama terus dipertahankan. Yang idealis untuk kepentingan stakeholder sepak bola nasional. Reformasi PSSI harus dijalankan secara idealis. Mulai dari menata struktur organisasi, pembinaan usia dini, kompetisi profesional, sampai kepada pembentukan tim nasional yang ideal.

Hanya tokoh reformis dan idealis yang mampu membuat PSSI menjadi lebih baik. Maklum, sejauh ini revolusi tata kelola sepak bola nasional sulit dijalankan karena tak adanya tokoh-tokoh reformis dan idealis yang memimpin. Selama ini yang memimpin PSSI adalah tokoh yang membawa kepentingan kelompok yang selama ini gagal menerjemahkan dan menjalankan PSSI seperti semangat saat didirikan.

3. Sulit Dikendalikan Kelompok Status Quo

Bicara pemimpin yang sulit dikendalikan status quo, Ahok salah satu miniaturnya. Ia bahkan berani bertarung melawan status quo yang selama ini menikmati “kekayaan� ibukota negara. Termasuk didalamnya, kepentingan DPRD. Berbagai cara dilakukan status quo untuk menjaga “sumber kehidupannya�, tapi Ahok tak mampu dikendalikan. Bahkan, melawan! Sosok semacam inilah yang perlu disodorkan untuk memimpin PSSI yang kepentingan status quo selama 25 tahun sudah menggurita.

4. Berani Melawan Arus

Merevolusi PSSI butuh pemimpin yang berani melawan arus. Kebiasaan lama yang merusak digantikan model baru yang lebih menjanjikan masa depan. Memang, akan banyak menghadapi perlawanan. Karena itulah PSSI butuh pemimpin yang berani melawan Arus: mengedepankan kepentingan masa depan, dibandingkan mengakomodasi kepentingan lama yang sudah using dan merusak tatanan. Ahok, sudah membuktikannya. Bahkan, ia pasang badan melawan arus kebiasaan.

5. Berintegritas dan Punya Kapabilitas

PSSI butuh pemimpin yang punya integritas dan kapabilitas. Integritas moral dan kapabilitas dalam memimpin organisasi yang secara de facto merupakan gambaran Indonesia. Sejauh ini sangat sulit mencari Ketua Umum PSSI yang punya integritas dan kapabilitas. Integritas moral sangat penting untuk membawa perubahan di PSSI. Kapabilitas? Ahok memang tak banyak terlibat di sepak bola Indonesia. Tapi, langkahnya ketika mau mengakuisisi Persija Jakarta, lalu membatalkannya karena banyak kebohongan di dalamnya, layak dijadikan referensi. Artinya, Ahok punya pengetahuan cukup untuk sepak bola Indonesia. Sangat kapabel dan punya nyali besar untuk perubahan.

Dari gambaran di atas, sudah cukup tergambar, bahwa PSSI butuh pemimpin seperti Ahok. Tapi, karena kepemimpinan PSSI kolektif dan Kolegial, maka Ahok harus didampingi tokoh-tokoh yang juga punya nyali dan keberanian merevolusi organisasi sepak bola Indonesia. Bolehlah, Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo, atau Pangkostrad, Letnan TNI Edy Rahmayadi, menjadi pendampingnya. Selain itu, juga butuh exco-exco yang berani dan berjiwa reformis untuk masa depan sepak bola Indonesia yang lebih baik seperti misalnya, Mayjen TNI (Pur) Noor Amman yang selama ini berdiri kokoh melawan ketidakberesan di PSSI. Siapa lagi?

Yang pasti, Pemimpin PSSI benar-benar harus punya kepemimpinan dan keberanian seperti Ahok bila ingin memutus mata rantai “gurita pembunuh� yang selama ini menguasai PSSI. Syukur-syukur Ahok yang definitif memimpin PSSI.


Sumber: https://www.facebook.com/147995238566016/photos/a.153151988050341.30634.147995238566016/1176627075702822/?type=3&theater

You may also like

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

%d blogger menyukai ini: