Gus Romli Beberkan Program Menyongsong Meteor yang Dikira Kiamat

by admin
0 comment

Gus Romli Beberkan Program Menyongsong Meteor yang Dikira Kiamat

JawaPos.com- Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahul Fallahil Mubtadiin (MFM) mendadak diperbincangkan masyarakat luas beberapa hari terakhir. Pasalnya, ponpes yang berada di Dusun Pulosari, Desa Sukosari, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang itu diisukan menyebar fatwa kiamat sudah dekat. 

Isu itu mencuat setelah adanya puluhan warga Desa Watu Bonang, Kecamatan Badegan, Ponorogo, yang secara serentak pindah ke ponpes. Namun belakangan seluruh pihak, mulai pengasuh ponpes, MUI, hingga kepolisian menepis kabar soal kiamat sudah dekat tersebut.

Pengasuh Ponpes MFM KH Muhammad Romli Soleh mengklarifikasi kabar yang beredar. Menurutnya, isu tersebut berawal dari program triwulan yang sudah tiga tahun dijalankan oleh ponpes. Yakni program menyongsong meteor. 

pindah karena kiamat menyongosong meteor ponpes kasembon malang ponorogo gus romli
Suasana di Pondok Pesantren Miftahul Fallahil Mubtadiin (MFM), Kasembon, Kabupaten Malang. (Fisca Tanjung/ JawaPos.com)

Program itu biasanya berjalan pada saat memasuki bulan Rajab, Syaban, sampai Ramadan dalam kalender Islam.

“Kalau sudah Rajab, Syaban, sampai Ramadan itu banyak jamaah tarekat dari luar kota, bahkan luar Jawa. Ini sudah berjalan tiga tahun ada program triwulan, yaitu dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah dan menyongsong meteor, bukan kiamat,” tegasnya.

Tarekatnya disebut sebagai Ahmaliyah Asolikin. Dia menjelaskan, meteor merupakan satu dari 10 tanda besar datangnya hari kiamat.

“Awal dari 10 tanda besar kiamat itu diawali dari hantaman meteor,” katanya. 

Laki-laki yang akrab disapa Gus Romli itu mengklaim bahwa pengajian yang dia berikan terkait akhir zaman sama dengan yang disampaikan oleh ustad Zulkifli M Ali. Menurutnya, berdasarkan hadis-hadis tentang akhir zaman, tanda pasti munculnya dajjal itu adalah keringnya Tiberias yang ada di wilayah Israel.

“Itu keringnya sudah sangat parah. Diperkirakan BMKG (kekeringan) dunia itu (pada) 2022-2023. Padahal kalau itu kering, pasti Dajjal akan muncul,” terangnya. 

“Ada hadis lagi yang mengatakan, sebelum Dajjal (muncul), ada 3 tahun kemarau. Tidak ada makanan, tidak ada minuman,” lanjutnya. 

Dia memaparkan, pada tahun pertama Allah menahan sepertiga hujan sepertiga tanaman. Selanjutnya tahun kedua, menahan dua pertiga hujan, dua pertiga tanaman. Kemudian tahun ketiga, 100 persen hujan tidak menetes dan 100 persen tanaman tidak tumbuh. 

“Karena itu, kalau 22 diambil 3 berarti 2019 (akan terjadi kemarau). Ini kan karena waspada saja. Makanya (berdasar) hadis ini, sudah tiga tahun tiap Ramadan ada (program) menyongsong meteor,” jelasnya. 

Lantaran semakin banyak yang berminat untuk mengikuti program menyongsong meteor, maka Gus Romli mewajibkan santrinya untuk membawa persiapan sendiri-sendiri. “Saya hitungka,n tiap kepala butuh 5 kuinta gabah (padi), kalau beras 3 kuintal untuk dia sendiri,” urainya.

Alumnus Ponpes Lirboyo itu mewanti-wanti bila ramadan tahun ini akan terjadi meteor. Oleh karena itu dia mengimbau kepada jamaahnya agar membawa makanan sebagai persediaan selama satu tahun.

“Akhirnya banyak yang ke sini, jamaah-jamaah itu memang sudah 3 tahun ini (ikut program menyongsong meteor). Cuma (tahun) ini lebih banyak, ada yang bawa anak istri,” tuturnya.

Program menyongsong meteor hanya untuk  triwulan saja. Bila di bulan ramadan tidak terjadi meteor, maka santri tersebut akan kembali pulang ke kampung masing-masing sembari membawa gabah. 

Lantaran peminat program tersebut membludak, Gus Romli juga sampai menyediakan lahan di dalam ponpes untuk penginapan santri.

“Lah di sini karena saya sudah repot ngopeni (merawat) santri, saya katakan itu tempat ada silakan. Tanah kosong, kamu mau bangun angkring, gubuk-gubukan silakan, tapi bangun sendiri,” ujarnya.

Gus Romli juga menegaskan bahwa tumpukan gabah yang ada di salah satu sudut pondok merupakan milik para santri. Bukan milik dirinya maupun ponpes. “Mereka menyiapkan logistik sendiri. Tumpukkan gabah di sana milik jamaah, bukan milik saya,” urainya,

Soal fatwa kiamat, Gus Romli menegaskan tidak pernah mengeluarkan pernyataan itu. “Saya tidak memberi fatwa kiamat, ini adalah waspada meteor. Selama itu kami memperbanyak zikir sampai selesai Ramadan,” tegasnya.

“Artinya kalau terjadi meteor mereka sudah bergabung dengan gurunya dan sudah membawa makanan sendiri-sendiri. Kalau tidak terjadi, mereka pulang sendiri-sendiri lagi,” ucap Gus Romli.

Gus Romli mengaku heran atas peristiwa yang terjadi beberapa waktu belakangan ini. Padahal, program menyongsong meteor tersebut sudah berjalan selama tiga tahun terakhir. “Program triwulan terus berjalan 3 tahun ini. Kenapa kok yang 2 tahun tidak ramai, sekarang kok ramai?” katanya heran.

Editor           : Dida Tenola

Reporter      : Fiska Tanjung

Published at Fri, 15 Mar 2019 02:43:37 +0000

You may also like

Leave a Comment

%d bloggers like this: