Cara Warga Jogja Peringati Hari Kebangkitan Nasional

by admin
0 comment

Cara Warga Jogja Peringati Hari Kebangkitan Nasional

JawaPos.com – Masyarakat Jogjakarta yang tergabung dalam Kawula Ngayogyakarta Hadiningrat (KNH) memiliki cara tersendiri dalam memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Berlangsung di Tugu Pal Putih, Jogjakarta, Senin (20/5) sore merangkai kegiatan untuk NKRI.

“Kami masyarakat Jogjakarta, yang tergabung dalam Kawula Ngayogyakarta Hadiningrat (KNH) bermaksud mengadakan peringatan hari Kebangkitan Nasional sebagai upaya merangkai kembali kecintaan pada negeri tercinta ini. Juga sekaligus mengembalikan Marwah Pancasila sebagai pemersatu dan menganyam spirit pluralisme dalam kehidupan berbagsa dan bernegara,” ujar Koordinator KNH Sigit Sugito dalam keterangan tertulis, Selasa (21/5).

Sigit Sugito menuturkan, akhir-akhir ini rasa nasionalisme itu mulai terusik oleh kepentingan politik sesaat sebagai konsekuensi logis dari sebuah negara demokrasi. Pilpres 2019 melahirkan luka-luka sejarah bagi kerukunan dan keberagaman berbagsa dan bernegara. Semangat nasionalisme terkoyak.

Pancasila sebagai rumah besar yang menaungi pluralitas kembali dipersoalkan oleh kelompok-kelompok yang tidak menginginkan Pancasila sebagai narasi besar bangsa Indonesia.

Padahal, imbuhnya, semangat kebangsaan atau rasa nasionalisme pada NKRI memang sudah diawali sejak era 1908. Ketika berdirinya perkumpulan Budi Utomo yang dimotori oleh dr Wahidin Sudirohusodo, Dr Sutomo, dan kawan-kawan.

Dari spirit kebangsaan tersebut berlanjut pada 1928 dengan lahirnya Sumpah Pemuda. Dari lahirnya Budi Utomo 20 Mei 1908 itulah para tokoh menetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Dari perjalanan panjang sejarah negeri ini menuju kemerdekaan 1945, tiga tokoh besar Indonesia, yaitu Muhammad Yamin, Soepomo, dan Soekarno merumuskan Pancasila sebagai dasar haluan negara dan pandangan hidup bangsa yang disepakati secara bersama.

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional di Jogjakarta, Senin (20/5). (Istimewa for JawaPos.com)

Sementara itu, Peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang berlangsung pada Senin (20/5) itu dilanjutkan dengan prosesi Tundung Larung Sengkuni dari Jogja. Dalam cerita pewayangan, Sengkuni adalah tokoh antagonis yang istimewa. Namun keistimewaannya bukan dalam hal yang positif.

Sengkuni adalah gambaran manusia yang penuh kelicikan, kebusukan, dan jahat. Walau sebenarnya Sengkuni adalah tokoh yang tangkas, pandai bicara dan penuh akal. Namun kepandaian itu justru dimanfaatkan untuk memfitnah dan mencelakakan orang lain. “Tokoh-tokoh Sengkuni inilah yang banyak bermunculan di negeri ini,” lanjut Sigit.

Acara tersebut dimaknai sebagai upaya mengusir sifat-sifat Sengkuni yang ada di negeri ini dan khususnya di Jogjakarta sebagai daerah istimewa yang menjunjung tinggi toleransi, pluralitas, dan kerukunan beragama.

Published at Tue, 21 May 2019 04:17:22 +0000

You may also like

Leave a Comment

%d blogger menyukai ini: