Lela Majenun

by admin
0 comment

Lela Majenun

SASTRO jomblo dan percaya segala omongan jomblo, kecuali tentang kuntilanak dan rombongannya. Sarjana matematika ITB itu antitakhayul. Alasannya, Tiongkok-India sudah rebutan kavling di angkasa luar, masak kita masih meringkuk di tempurung kelapa ndasnya jaelangkung?

Di malam Jumat Kliwon Sastro pernah menggeret jomblo juniornya, boncengan motor, bergegas ke pohon beringin tua. Gara-garanya, jomblo karang taruna itu terengah-engah curhat: baru saja memergoki kuntilanak di bawah beringin angker itu.

Sesampai di TKP Sastro nyaris menghardik, ”Nih, buka matamu lebar-lebar. Bukan kuntilanak, kan? Cuma patung nestar yang disusun-susun, kan? Tumpukan kue-kue buangan. Kemarin kan di kota kabupaten ada demo buruh. Nestar-nestar mereka lempar-lemparkan. Mereka protes, kenapa THR-nya cuma nestar, bukan uang.”

Sejak malam Jumat lalu itu si jomblo karang taruna tak lagi percaya klenik, takhayul, dan semacamnya. Jumlah anak muda yang ketularan pencerahan begitu terus bertambah gegara mereka sering nangkring di gardu ronda.

Maklum, sejak Pak Camat nge-jam jaringan, anak-anak muda sekecamatan tak lagi sibuk menyendiri di kamar masing-masing dengan gadgetnya. Mereka selalu reriungan di gardu ronda. Main musik, gaple, catur, dan lain-lain sambil berkemul sarung membakar singkong dan jagung.

Mereka ngomongin teknologi, bukan wewe gombel, jenglot, genderuwo, dan gengnya. Kasak-kusuk tentang Jendro tentu ada. Bagaimana cara kembang desa itu lilitan handuk mandi di pancuran. Bagaimana caranya menyanyi-nyanyi kecil sembari melenggang di pematang sawah. Tapi omongan yang indah-indah itu cuma bumbu. Obsesi mereka, dalam setahun kecamatannya sudah menyalip Tiongkok dan India untuk teknologi ruang angkasa.

Belum setahun, Lebaran hari kedua, si kembang desa itu kesurupan. Ulahnya berkembang dari meronta-ronta sampai mengarah ke semacam demo yang rusuh sambil melengking-lengkingkan nama:

”Majenuuuuuun ….!!!! Majenuuuuun ….!!!!”

Siapa Majenun?

Tak satu pun warga kecamatan ada yang bernama Majenun. Melalui pemuda mantan pengamat kuntilanak tadi, masyarakat meminta Sastro turun tangan. Sarjana matematika itu harus mau menyembuhkan Jendro secara klenik. Sastro harus menggunakan kembang tujuh rupa, keris, dan mantra. Sastro yang antiklenik keukeuh menolaknya sampai Jendro melintang tepat di depan hidungnya.

Perempuan cantik yang pakaiannya sudah compang-camping bekas gulung koming di lumpur itu membawa obor. Ia bersiap akan ngobong rumah Sastro. Sastro gentar. Tanpa pikir panjang langsung ia terima kembang tujuh rupa dan segala uba rampe lain dari warga. Mantra tulisan tangan dari Wak Kabul juga dibacanya dengan komat-kamit yang magis.

Setelah bermantra, dengan suara berat Sastro menatap tajam Jendro, ”Lela, kenapa kamu meminjam raga Jendro dan terus menyebut-nyebut ’Majenun’, panggilan khususmu padaku dulu di Bandung?”

”Masih mencintaiku, Majenun?”

Sastro meneteskan air mata.

”Ya, aku tahu jawabanmu, Majenun. Makanya kamu tetap menjomblo. Kedatanganku hanya mau kasih info. Usai kita sama-sama diwisuda di Kampus Ganesha 20 tahun lalu, kamu ngotot pulang memajukan desa. Aku tak sudi. Kupikir, sarjana bagusnya tinggal di kota. Eh, di kota ternyata aku terluka. Pertama luka luar. Lalu luka dalam. Hatiku terluka. Lama-lama aku mati. Tapi sekarang sudah lega. Setidaknya, kamu sudah tahu bahwa aku sudah tiada. Cintakuuuu ….!!!”

Bersamaan dengan seruan itu, mata Jendro terpejam, oleng berdirinya, lalu roboh dan disangga pundak Sastro.

Cerita selanjutnya, apakah dalam setahun kecamatan itu sanggup menyalip teknologi Tiongkok dan India seperti target mereka? Yang jelas, dalam setahun ini, Sastro-Jendro menikah. (*)

*Sujiwo Tejo, tinggal di www.sujiwotejo.net

Published at Tue, 18 Jun 2019 01:41:35 +0000

You may also like

Leave a Comment

%d blogger menyukai ini: