Anjing dan Rembulan

by admin
0 comment

Anjing dan Rembulan

SEBUTLAH hobi teman cowok Jendrowati yang satu ini aneh bin ganjil. Cintanya pol-polan kepada air liur anjing. Kalau tak dibilang aneh bin ganjil, mau dibilang apa lagi, coba? Paling banter, ya, aneh binti ganjil.

Lebih binti ganjil lagi, Jendro tak jijik bersaksi saat sohibnya tekun berlama-lama memandangi lendir yang merembes dari moncong anjing. Malah, Jendro bisa menyaksikan liur berbusa yang terus menetes tes tes tes itu sembari tetap lahap menyeruput kuah bakmi jawa Pak Eko.

Tes … tes … tes … Sluuurrrrrppp…

Tidak cuma memandang iler yang berbuih-buih, tak jarang sohibnya yang berwajah pemberontak itu malah memepet-mepetkan kepalanya ke kepala anjing. Matanya yang tajam hanya sejarak sekian inci dari moncong binatang yang terus-menerus ngeces, sambil dielus-elusnya kepala anjing itu. Di atas keduanya, di langit, adalah rembulan yang menggantung muram.

Ah, suasana malam yang muram, dan kelam itu, tak selalu menjadi kenyataan lain yang melengkapi panorama Jendro saat menyaksikan hobi sohibnya. Jendro bisa selalu mengkhayalkan hadirnya malam serupa, lengkap dengan bulan yang menggantung muram, setiap sohibnya bermain-main dengan liur anjing.

Di terik matahari jalanan, di antara hilir mudik mobil-mobil, sohibnya melihat seekor anjing di trotoar. Lendir menetes-netes dari moncongnya. Mendadak sohib itu mulai melakukan hobinya. Ia gosok-gosokkan rambutnya ke kepala anjing itu. Liur anjing bertetesan ke jaketnya. Mendadak pula, saat itu, muncul dalam khayalan Jendro rembulan yang menggantung muram. Suasana terik siang hari di jalanan mendadak menjelma malam yang muram dan kelam di benaknya.

Suasana malam kelabu itu persis ketika suatu hari bu guru menyuruh murid-muridnya menggambarkan koruptor. Sohib Jendro yang satu ini menggambar langit kelabu. Di sana ada rembulan pucat.

Kawan-kawannya ada yang gambar koruptornya berupa suster ngesot seperti di film-film horor. Ada pula gambar koalisi jus aneka buah yang diulek dan koalisi sambal tomat yang diblender. Ada lagi yang menggambar koruptor adalah suami yang menggadaikan istrinya. Macam-macam, tapi tak satu pun seperti gambar sohib Jendro.

Benar-benarkah Jendro menyukai sohibnya komplet dengan segala kelakuannya yang aneh bin ganjil?

Hanya Sastro yang waspada sehingga tahu bahwa sebenarnya Jendro, putrinya, jijik akan kebiasaan sohib cowoknya itu. Jendro suka kepiawaian sohibnya yang selalu menjadi bintang lapangan basket? Iya! Sastro paham betul hal itu. Tapi, feeling Sastro dan juga feeling koleganya sesama orang-orang kaya republik itu, Jendro sejatinya selalu mual melihat sohibnya keceh dengan liur anjing.

Petang ini Sastro sedang duduk-duduk di sofa kamar tidur ketika Jendro yang kini umur 20-an masuk kamarnya. Gadis itu sekarang sudah terlalu besar bagi Sastro untuk digodanya main perang-perangan dengan bantal-bantal yang dilambung dan dilempar-lemparkan seperti dulu-dulu.

Ah, berteman dengan anak tidak harus perang-perangan bantal lagi. Lebih baik Jendro ia perlakukan sebagai teman dengan mengajaknya ngobrol santai saja. Setelah ngalor-ngidul dan obrolan menjadi cair, hubungan bapak-anak kini menjadi hubungan antarteman. Sastro iseng bertanya, kenapa Jendro tidak terus terang saja ke sohibnya bahwa ia jijik melihatnya bermain liur anjing.

”Gais,” jawab Jendro. ”Kalau aku terus terang mengaku jijik melihat hobinya, pasti aku akan kehilangan teman.”

”Ya, ndak papa. Aku yang akan menjadi temanmu.”

”Gak mau.”

”Kenapa?”

”Karena, menurut banyak temanku, ayah sekarang adalah koruptor. Aku gak mau temenan ma koruptor.”

*) Sujiwo Tejo tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Published at Sun, 30 Jun 2019 11:31:08 +0000

You may also like

Leave a Comment

%d blogger menyukai ini: