Sejarah Piala Super Eropa: Berawal dari Ide Seorang Jurnalis

by admin
0 comment

Sejarah Piala Super Eropa: Berawal dari Ide Seorang Jurnalis

Football5star.com, Indonesia – Dua wakil Inggris Liverpool sang juara Liga Champions dan Chelsea juara Liga Europa akan saling bertemu di ajang Piala Super Eropa di Istanbul, Turki. Pertemuan kedua tim Inggris yang berlangsung, Selasa (13/8/2019), jadi yang pertama kali dalam sejarah Piala Super Eropa.

Perhelatan Piala Super Eropa pertama kali dihelat 47 tahun lalu atau tepatnya saat mempertemukan juara Liga Champions 1972-73, Ajax Amsterdam melawan juara Piala Winners, AC Milan. Saat itu format Piala Super Eropa masih kandang dan tandang.

Pada leg pertama yang berlangsung 9 Januari 1974 di Stadion San Siro, AC Milan menang 1-0. Namun, di leg kedua yang berlangsung di Amsterdam, tim yang saat itu dilatih Cesare Maldini dihancurkan dengan skor telak 0-6. Ajax jadi tim pertama yang merengkuh Piala Super Eropa.

Ide jurnalis Belanda

Gagasan untuk menyelenggarakan Piala Super Eropa sendiri berawal ide seorang jurnalis asal Belanda, Anton Witkamp. Witkamp yang saat itu masih bekerja sebagai reporter di De Telegraaf menyampaikan pemikirannya tentang bagaimana membuat suatu pertandingan yang mempertemukan juara kompetisi Eropa.

Ide Witkamp sebenarnya hanya keinginan dirinya sebagai seorang reporter sepak bola yang menginginkan dominasi klub Belanda (Ajax Amsterdam) di Eropa terus terjadi. Saat Witkamp melontarkan ide tersebut, sepak bola Eropa memang tengah dikuasai Belanda.

Sejarah Piala Super Eropa: Berawal dari Ide Seorang Jurnalis
uefa.com

Awalnya, Witkamp ingin mencari tahu secara pasti mana tim terbaik di Eropa dan juga ingin menguji apakah tim legendaris milik Ajax yang dipimpin oleh Johan Cruyff dapat dikalahkan tim lain dari Eropa.

Menariknya saat Witkamp mencoba untuk membawa gagasan tersebut ke petinggi federasi sepak bola Eropa, UEFA. Gagasan itu justru ditolak.

Meski mendapat penolakan dari UEFA. Ide Witkamp mendapat sokongan dari media tempatnya bekerja, De Telegraaf. Maka pada 1972, laga tak resmi Piala Super Eropa dihelat.

Saat itu dua tim bertemu, Ajax sebagai juara Liga Champions dan wakil Skotlandia Glasgow Rangers juara Piala Winners. Namun UEFA tak mengakui laga di tahun tersebut. Alasannya Rangers saat itu baru dihukum oleh UEFA karena tingkah fan mereka di babak final Piala Winners 1972.

Perubahan format pertandingan

Sejak awal digulirkannya Piala Super Eropa memang sudah ditetapkan menggunakan format kandang dan tandang. Namun untuk beberapa kali penyelenggaraannya, format itu tak bisa dijalankan karena sejumlah alasan.

Tercatat di sejarah Piala Super Eropa, tiga kali pertandingan tidak gunakan sistem kandang dan tandang yakni pada tahun 1984, 1986, dan 1991. Bahkan, tiga kali Piala Super Eropa tak bisa dimainkan yakni pada 1974, 1981, dan 1985.

Di perhelatan Piala Super Eropa 1974 kedua tim yang seharusnya bertemu, Bayern Munich dan Magdeburg tak bisa bertanding karena ketatnya jadwal kompetisi lokal. Selain masalah jadwal, sistem kandang dan tandang Piala Super Eropa juga terganggu karena masalah politik, seperti yang terjadi di 1985.

Sejarah Piala Super Eropa: Berawal dari Ide Seorang Jurnalis
uefa.com

Pada tahun tersebut pasca tragedi Heysel, klub Liga Inggris dilarang berpartisipasi di Eropa. Everton saat itu pun gagal bertanding melawan Juventus di Piala Super Eropa 1985.

Piala Super Eropa pada musim 1995-96 mengganti nama menjadi Piala Super UEFA. Format yang digunakan masih tetap kandang dan tandang meski nama kompetisi diubah.

Baru pada 1997, format pertandingan tunggal pun mulai diberlakukan. Setahun kemudian, markas AS Monaco, Stade Louis II selalu menjadi tempat berlangsungnya Piala Super Eropa. Baru pada 2013 lalu, Piala Super Eropa digelar di sejumlah stadion seperti Cardiff (2014), Tbilisi (2015), Trondheim (2016), Skopje (2017), Estonia (2018) dan tahun ini di Istanbul, Turki.

Published at Wed, 14 Aug 2019 09:48:05 +0000

You may also like

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

%d blogger menyukai ini: