Obat Penawar Itu Bernama Arema

by admin
0 comment

Obat Penawar Itu Bernama Arema

Sing ana wae yo mas,” kata wanita paruh baya itu saat mempersilahkan kami menyantap sarapan. Pagi itu, tim Football5star berkesempatan menemui Sukarno, penabuh drum bass Aremania. Wanita paruh baya tadi adalah istri dari Pak No, sapaan akrab Sukarno.

“Bapak masih betulin ban motor di tempat teman,” kata istri Pak No. Tak sampai 30 menit, sosok yang kami rencanakan untuk ditemui sejak di Jakarta akhirnya muncul.

Tak ada kesan eksklusif saat perjumpaan pertama kami di gang
kecil itu. Di depan rumah makan kayu yang tak terlalu besar, suasana hangat
menyambut tim Football5star pagi itu. Rasa letih usai penerbangan pagi dari
Jakarta langsung sirna.

Bangunan yang didominasi material kayu berwarna biru dan merah itu sepertinya memang disiapkan untuk warung nasi. Letaknya persis menjalar di Gang Hasanudin, Klojen. Posisinya yang berada di tengah kota membuat orang tak sulit menemukannya.

Pak No - Arema - Football5star - Abdi

Kami pun langsung berdiskusi soal perkembangan sejarah dunia
balbalan di kota Malang. “Sebelum ada geliat suporter seperti sekarang,
sebenarnya Malang itu kota musik,” katanya membuka cerita pagi itu. Sejak akhir
90-an, dirinya mulai aktif menjadi penabuh drum setiap kali Arema bertanding.

Pak No menceritakan Arema menjadi obat penawar bagi penyakit
akut yang diderita wilayah Malang pada saat itu. Masing-masing daerah punya
geng masing-masing yang jika bertemu satu sama lain, hampir bisa dipastikan
baku pukul adalah hasil akhirnya.

“Memang, anak-anak muda di sini waktu itu masih sering
tawuran. Daerah lain belum ada tawuran, Malang sudah duluan. Makanya waktu itu
sering ada bentrok di titik-titik kota,” papar Pak No. Tawuran serta praktek
kekerasan sejenis mulai mereda ketika Aremania perlahan muncul ke permukaan.

“Awalnya anak-anak itu sadar bahwa tidak bisa selamanya kita seperti ini. Toh, nama kota Malang yang tercoreng. Akhirnya setelah ada Arema, perlahan-lahan mulai mereda. Kalau sekarang mungkin istilahnya kopdar, kalau waktu itu namanya kumpul biasa saja,” tutur pria yang sempat berprofesi sebagai Satpol PP itu.

“Waktu itu namanya belum Arema, masih Armada. Singkatan dari apa saya kurang tahu. Tapi tidak lama setelahnya barulah berganti nama dan masih dipakai hingga sekarang nama itu,” tuturnya.

Tanggal 11 Agustus 1987 memang disepakati sebagai hari lahir
klub sepak bola bernama Arema Malang. Sejak saat itu, kultur kota bekas
Kerajaan Kanjuruhan tersebut. “Era Galatama itu jadi momen Arema untuk menjadi
contoh klub yang mandiri dari sponsor tanpa APDB. Pada saat itu, klub-klub yang
berawalan “Per”, itu biasanya disokong pemerintah daerah,” katanya melanjutkan
cerita.

Klub yang ia cintai dan perjuangkan itu genap berusia 32
tahun. Pak No menaruh harapan besar agar Arema dan Aremania dapat terus menjadi
entitas yang merepresentasikan kota Malang di mata negara, bahkan dunia.

“Kepada semua Aremania di mana pun berada, bersatulah! Akurlah sesala saudara. Berhenti gontok-gontokan karena kita mencari saudara,” pesannya menutup percakapan.

Published at Thu, 15 Aug 2019 04:14:38 +0000

You may also like

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

%d blogger menyukai ini: