HomePSMP Mojokertoliga indonesia baru

Suara Supporter : Kemana Bapak Kami? DISPORABUDPAR Kabupaten Mojokerto

Pernah ku baca di suatu kolom berita,yang mana isinya KONI berhasil membangun GOR indoor gajah mada.singkat terbesit dalam benakku.kenapa KONI ? Kok b

16 BESAR I INI KATA KEDUA PELATIH USAI PERTANDINGAN
Kartanto : Senang Bisa Melawan Mantan Tim, Semoga Diturunkan Pelatih
Berlatih Fisik dan Strategi Permainan
Pernah ku baca di suatu kolom berita,yang mana isinya KONI berhasil membangun GOR indoor gajah mada.singkat terbesit dalam benakku.kenapa KONI ? Kok bukan dispora.padahal di kolom berita yg lain di suatu daerah lain.fasilitas olahraga adalah kewenangan dispora.
Gambar. Lapangan dan bola adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan (foto. elkosongsiji.com)

“Entahlah, mungkin saya yg tak tau prosedurnya bagaimana”.

Di suatu kisah yg lain, saat mediasi dengan Pak Renaldi dari Dinas PUPR Kab. Mojokerto. “Saya bertanya, bagaimana proses renovasi stadion? mulai dari proses penganggaran hingga pengerjaan”. “Beliau menjawah, renovasi stadion murni dari APBD,” Artinya ada pengajuan hingga persetujuan dan yg mengajukan hingga pelelangan tender di lakukan Dinas PUPR Kab. Mojokerto.
Kembali hati ini bertanya, kok bukan dispora?

Lagi-lagi mungkin saya tak mengerti prosedur.

Tibalah saat audiensi dengan kepala Disporabudpar Kab. Mojokerto. Kata yg paling saya ingat ialah “Silahkan buat proposal, kalian akan saya jadikan acuan untuk di ajukan ke bupati,” Di sini saya mulai geleng-geleng kepala.
Bagaimana mungkin kepala dinas bekerja menunggu proposal dari warga.
Apabila kita (Supporter, red) tak mengajukan proposal apakah dinas terkait tak mau mengajukan renovasi stadion. Yang menjadi pertanyaan, ke depan stadion menjadi tanggung jawab dari dinas/intansi mana? jika dinas yg terkait tidak berusaha untuk melakukan renovasi stadion gajah mada mojosari.
Padahal tuntutan kita ringan, perhatikan nasib stadion. Dan mengusahakan 0,5 % dari APBD per tahun khusus untuk renovasi stadion. “Menurut saya sangat tidak membebani APBD Kabupaten Mojokerto”. Namun serasa sangat sulit anggaran itu turun untuk fasilitas olahraga. Bukankah nama dinasnya tersemat kata olahraga, Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata.
Namun seolah-olah satu instansi tersebut hanya mengurusi di sektor pariwisata saja. Jika memang begitu, hapus saja kata OLAHRAGA di dalam nama instansi tersebut. “Kami pun tidak akan pernah lagi punya tempat untuk mengadu dan menuntut. Serta Mojokerto akan menjadi kabupaten yg menghilangkan bidang olahraga dalam pembangunannya.
Jika masih ada kata OLAHRAGA dalam instansi tersebut, maka perhatikan juga segala fasilitas dan atlet-atletnya. Seandainya masih enggan untuk memperhatikan, maka tidak salah jika kita menyebut olahraga di Kabupaten ini adalah anak tiri.
Penulis juga teringat betul kalimat Kepala Disporabudpar Kab. Mojokerto saat itu. “Kalian mau pemain PSMP cidera, dengan bermain dilapangan yang tidak standar? Apa tidak kasihan jika sampai terjadi seperti itu? JIka tidak mau, ya silakan usulkan pembuatan stadion baru dengan lahan yang luas dan berstandar.
Hal yang sangat tidak logis bagi kami (Supporter, red) membiarkan semua hal buruk terjadi kepada tim yang didukung. Padahal kehadiran ke Kantor Disporabudpar Kab. Mojokerto untuk meminta solusi penyelesaian, bukan malah diberikan pertanyaan yang tidak relevan buat supporter. Apalagi supporter hanya masyarakat yang mendukung tim kebanggaanya dan ingin melihat timnya berprestasi baik.
Perhatian dari semua instansi terkait, selaku Pemerintah pemangku jabatan bisa mengakomodir sebuah permintaan masyarakatnya. Bukan malah sebaliknya, yang seolah-olah lepas tangan. Jika ada prosedur yang harus dilewati, masyarakat setidaknya diberikan pengetahuan dan wawasan.
Semoga tulisan ini bisa menjadi pembelajaran untuk semua pihak, agar bisa berjalan beriringan sesuai koridornya masing-masing.
Oleh : Cak O Z Forestfirm (Supporter sebatas tribun)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 1